Ketua KPU Provinsi Papua Tengah, Sepo Nawipa bersama ketua Divisi Teknis, Indra Ebang Ola dan Sekretariat Sub Bagian Teknis mengikuti secara daring melalui zoom meeting kegiatan bedah buku Making Democracy Count: How Mathematics Improves Voting, Electoral Maps, and Representation karya Ismar Volić yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia sebagai bagian dari penguatan literasi demokrasi dan pengembangan wawasan kepemiluan. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum, Mochammad Afifudin. Buku yang diterbitkan oleh Princeton University Press ini membahas bagaimana matematika memiliki peran penting dalam membangun sistem demokrasi yang lebih adil, representatif, dan tahan terhadap manipulasi. Melalui berbagai contoh dan kajian empiris, Ismar Volić menjelaskan bahwa sistem pemilu, pembagian kursi parlemen, hingga desain daerah pemilihan sesungguhnya dapat dianalisis secara matematis untuk mengukur tingkat keadilan representasi suara rakyat. Salah satu gagasan utama dalam buku tersebut adalah kritik terhadap sistem plurality voting atau sistem suara terbanyak yang banyak digunakan di berbagai negara. Menurut Volić, sistem ini dapat menghasilkan pemenang yang sebenarnya tidak didukung mayoritas pemilih. Buku ini juga membahas berbagai alternatif metode pemilu seperti Ranked Choice Voting, Borda Count, Approval Voting, hingga konsep Condorcet Winner yang dinilai mampu menghasilkan representasi yang lebih mencerminkan preferensi pemilih secara keseluruhan. Selain membahas metode pemungutan suara, buku ini turut mengulas persoalan pembagian kursi parlemen (apportionment), fenomena gerrymandering atau manipulasi daerah pemilihan, hingga kritik terhadap sistem Electoral College di Amerika Serikat. Volić menegaskan bahwa matematika bukan hanya berkaitan dengan angka, tetapi juga berkaitan erat dengan keadilan, distribusi kekuasaan, dan kualitas demokrasi. Kegiatan bedah buku menghadirkan sejumlah narasumber akademisi, di antaranya Aditya Perdana dan Mada Sukmajati yang membahas relevansi isi buku terhadap sistem pemilu di Indonesia. Dalam pemaparannya, Aditya Perdana menjelaskan bahwa demokrasi bukan hanya arena politik, tetapi juga merupakan “infrastruktur numerik” yang dapat dianalisis secara matematis. Matematika dinilai mampu membantu membongkar kelemahan tersembunyi dalam sistem pemilu sekaligus menjadi alat untuk menciptakan desain demokrasi yang lebih transparan, terukur, dan akuntabel. Ia juga menekankan bahwa tidak ada sistem pemilu yang sempurna secara matematis, namun reformasi sistem tetap penting dilakukan untuk meminimalkan ketidakadilan representasi. Sementara itu, Mada Sukmajati menjelaskan bahwa demokrasi pada dasarnya merupakan sistem matematis yang mengubah preferensi individu menjadi keputusan kolektif. Menurutnya, berbagai persoalan dalam demokrasi modern sering kali bukan semata disebabkan oleh rakyat atau elite politik, tetapi oleh desain sistem pemilu yang sejak awal memiliki kelemahan algoritmik. Karena itu, reformasi sistem pemilu perlu dilakukan secara lebih objektif melalui simulasi, pengukuran, dan pendekatan berbasis data. Dalam konteks Indonesia, diskusi juga menyoroti sistem proporsional terbuka, ambang batas parlemen, besaran daerah pemilihan, serta formula konversi suara ke kursi seperti Sainte-Laguë yang digunakan dalam pemilu legislatif. Para narasumber menilai bahwa setiap formula dan angka dalam sistem pemilu harus memiliki justifikasi demokratis agar tidak sekadar menjadi kompromi politik elite, melainkan benar-benar mencerminkan prinsip keadilan representasi. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya literasi numerik pemilu bagi masyarakat maupun penyelenggara pemilu. Pemahaman terhadap bagaimana suara dikonversi menjadi kursi dan kekuasaan dinilai penting untuk memperkuat kualitas demokrasi dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses pemilu. Di akhir kegiatan, Ketua Divisi Teknis Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, Idham Holik memberikan apresiasi kepada para pemateri, khususnya Ismar Volić yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dan perspektif mengenai desain sistem pemilu berbasis pendekatan matematis. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi pembelajaran yang baik bagi KPU di seluruh Indonesia dalam merancang sistem pemilu yang semakin demokratis, representatif, dan berkualitas. Keikutsertaan KPU Provinsi Papua Tengah dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas kelembagaan serta pengembangan kajian kepemiluan yang lebih ilmiah, objektif, dan adaptif terhadap tantangan demokrasi modern di Indonesia.